Uma Bestari Resmi Diluncurkan: Dari Dapur Rumah, Menuju Desa yang Lebih Sehat dan Berdaya

11 February 2026 Artikel

Uma Bestari Resmi Diluncurkan: Dari Dapur Rumah, Menuju Desa yang Lebih Sehat dan Berdaya

Tanggal 11 Februari 2026 menjadi hari yang penuh harapan bagi empat desa di Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya. Bertempat di aula Kantor Camat Loura, Proyek Uma Bestari yang diimplementasi oleh Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL) resmi diluncurkan. Lebih dari sekadar pembukaan program, momen ini menjadi awal dari kerja bersama untuk mencegah stunting dan membangun ketahanan pangan keluarga dari tingkat rumah tangga.

Peluncuran ini dibuka langsung oleh Bupati Sumba Barat Daya, Ibu Ratu Ngadu Bonu Wulla, S.T., bersama Wakil Bupati Bapak Dominikus Alphawan Rangga Kaka, S.P., yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S) Kabupaten Sumba Barat Daya. Turut hadir Kepala BAPPERIDA SBD Bapak Ignasius Leha, S.T., Camat Loura Bapak Drs. Bili Dolu, para kepala desa sasaran (Pogo Tena, Lete Konda, Lete Konda Selatan, dan Wee Manada), Kepala Puskesmas Radamata, pimpinan OPD, perwakilan BKKBN, kader Posyandu, Kader Pembangunan Manusia, TP PKK desa, Rektor Universitas Katolik (UNIKA) Weetebula, perwakilan Umaratu Foundation, serta berbagai mitra NGO.

Dalam sambutannya, Bupati Sumba Barat Daya menegaskan pentingnya kolaborasi. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Keluarga adalah garda terdepan, kader dan PKK adalah penggerak di lapangan, dan desa adalah ruang perubahan. Ia berharap Uma Bestari dapat memberi dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Wakil Bupati menambahkan bahwa upaya percepatan penurunan stunting tidak bisa menunggu sampai anak sakit. Pencegahan harus dimulai dari rumah, dari dapur, dan dari kebiasaan sehari-hari. Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan bahan pangan lokal di wilayah Loura sebagai bagian dari solusi untuk meningkatkan gizi anak sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa. Beliau mengapresiasi inisiatif Uma Bestari dan semua pihak yang terlibat dan tidak menjadikan data ini sekadar laporan, tetapi pijakan untuk kerja bersama yang lebih terarah dan berkelanjutan. Beliau juga menekankan bahwa anak-anak Sumba Barat Daya berhak tumbuh sehat. Dan itu adalah tanggung jawab kita bersama.

Direktur Eksekutif YTBL, Bapak Boyke Hutapea, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Uma Bestari adalah kerja bersama yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga. “Uma” berarti rumah, dan “Bestari” berarti bijaksana. Rumah yang bijaksana adalah rumah yang tahu bagaimana memberi makan anak-anaknya dengan baik, dari apa yang tumbuh di sekitarnya, dan dengan cara yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa proyek ini sejalan dengan arah pembangunan Kabupaten Sumba Barat Daya yang menempatkan desa sebagai fondasi pembangunan manusia. Uma Bestari juga merupakan kelanjutan dari kerja bersama Umaratu Foundation dan UNIKA Weetebula dalam menggali potensi pangan lokal di wilayah ini 

Sementara itu, Ibu Pupu Purwaningsih, M.A., selaku Koordinator Lokal Kindermissionswerk (KMW) untuk Indonesia, menyampaikan dukungan penuh lembaganya terhadap pelaksanaan Uma Bestari. Ia menegaskan bahwa KMW percaya pada pendekatan berbasis komunitas dan keluarga sebagai kunci perubahan jangka panjang. Dalam sambutannya, Ibu Pupu mengapresiasi upaya YTBL yang tidak hanya fokus pada pemberian makanan tambahan, tetapi juga pada edukasi gizi dan penguatan potensi pangan lokal seperti daun kelor dan bahan pangan khas Sumba lainnya.

Menurutnya, pemanfaatan pangan lokal bukan hanya tentang kesehatan, tetapi juga tentang martabat dan kemandirian desa. Ketika keluarga mampu mengolah sumber daya yang ada di sekitarnya menjadi makanan bergizi dan bernilai ekonomi, maka ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat akan tumbuh bersama.

Di tengah semangat kolaborasi yang terasa kuat hari itu, sebuah momen simbolik sekaligus strategis turut berlangsung: penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL) dan Pemerintah Desa Pogo Tena, Lete Konda, Lete Konda Selatan, serta Wee Manada. Bukan sekadar seremoni administratif, penandatanganan ini menjadi penanda bahwa Uma Bestari berdiri di atas komitmen bersama. Di hadapan para pemimpin daerah, kader, dan masyarakat, desa dan YTBL menyatakan kesiapan untuk berjalan seiring, berbagi peran, memperkuat koordinasi, dan menjaga keberlanjutan program. MoU ini mencerminkan kesadaran bahwa perubahan tidak bisa dikerjakan sendiri. Ia tumbuh ketika ada kepercayaan, kejelasan tanggung jawab, dan tekad kolektif untuk memastikan setiap langkah benar-benar menjawab kebutuhan keluarga dan anak-anak di desa.

Berbagai harapan dan pandangan yang mengemuka dalam forum tersebut sejatinya bukan muncul secara tiba-tiba. Narasi ini merefleksikan temuan dari baseline survey yang telah dilakukan oleh Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL) pada Januari 2026 di empat desa sasaran. Melalui wawancara, diskusi kelompok, dan pemetaan situasi di tingkat keluarga dan kader, YTBL menggali persepsi, tantangan, serta potensi yang sudah ada di masyarakat. Hasil baseline menunjukkan bahwa banyak kader masih membutuhkan penguatan kapasitas dan rasa percaya diri dalam menyampaikan edukasi gizi secara sederhana dan praktis. Di sisi lain, kelompok perempuan melihat peluang ekonomi dari pengolahan pangan lokal, sementara masyarakat menyadari bahwa bahan pangan khas Sumba kerap dipandang sebelah mata meski memiliki nilai gizi dan potensi ekonomi yang tinggi. Survei ini juga menangkap kerinduan untuk menghidupkan kembali kuliner tradisional sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus strategi pemenuhan gizi keluarga. Temuan-temuan inilah yang kemudian menjadi pijakan dalam merancang intervensi Uma Bestari agar benar-benar menjawab kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

Bagi YTBL, masukan dan harapan ini menjadi bagian penting dari perjalanan Uma Bestari. Program ini memang dirancang untuk menjawab persoalan gizi, tetapi dampaknya diharapkan meluas. Bukan hanya perubahan angka stunting, tetapi juga perubahan kebiasaan, perubahan cara pandang, dan peningkatan kapasitas komunitas.

Perubahan besar sering dimulai dari hal sederhana. Dari dapur rumah. Dari keputusan untuk memasak dengan lebih sadar. Dari keberanian mencoba olahan baru. Dari kader yang percaya diri berbicara. Dari PKK yang kembali aktif menggerakkan ibu-ibu.

Uma Bestari tidak datang membawa jawaban instan. Program ini mengajak desa melihat kembali potensi yang sudah ada. Pangan lokal tersedia. Kelompok perempuan ada. Posyandu berjalan. Pemerintah desa memiliki komitmen. Ketika semua ini terhubung dan diperkuat, perubahan menjadi mungkin.

Peluncuran ini menjadi tanda bahwa perjalanan telah dimulai. Tantangan tentu ada, tetapi semangat yang terlihat hari itu memberi keyakinan bahwa perubahan bisa dibangun bersama.

Dari rumah yang bijaksana, lahir generasi yang lebih sehat. Dari pangan lokal, tumbuh kemandirian desa. Itulah semangat Uma Bestari.

Proyek Uma Bestari didukung sepenuhnya melalui pendanaan dari Kindermissionswerk (KMW) Jerman. Dukungan ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat pendekatan berbasis komunitas dalam peningkatan gizi anak, ketahanan keluarga, dan pembangunan lokal yang berkelanjutan. Melalui kemitraan ini, KMW memungkinkan YTBL bersama pemerintah desa dan masyarakat untuk mengimplementasikan program yang menekankan pencegahan, penguatan kapasitas, serta dampak jangka panjang, bukan sekadar intervensi sesaat. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa solidaritas internasional dan inisiatif lokal dapat berjalan beriringan dalam menghadirkan perubahan yang bermakna dan berkelanjutan bagi anak-anak dan keluarga di Sumba Barat Daya.