Dari Dapur Rumah Menuju Desa Sehat: YTBL Berdayakan Kader Lewat Pangan Lokal Sumba
Masalah gizi dan stunting di Kabupaten Sumba Barat Daya masih menjadi tantangan besar yang memerlukan solusi konkret dan berkelanjutan. Sebagai langkah nyata menjawab tantangan tersebut, Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL) resmi memulai rangkaian kegiatan proyek Uma Bestari melalui penyelenggaraan Workshop Gizi Berbasis Pangan Lokal pada 14 Februari 2026 di Aula Hotel Sinar Tambolaka.
Acara perdana ini dihadiri oleh 53 peserta yang terdiri dari kader Posyandu, Kader Pembangunan Manusia (KPM), anggota TP-PKK dari empat desa dampingan: Pogo Tena, Lete Konda, Lete Konda Selatan, dan Wee Manada. Turut hadir pula perwakilan dosen dan beberapa mahasiswa dari Universitas Katolik (UNIKA) Weetebula yang sebelumnya sudah melakukan survei pangan lokal bersama Umaratu Foundation di Sumba Barat Daya.
Mengubah Paradigma: Dari "Asal Kenyang" ke "Gizi Berkualitas"
Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif YTBL, Bapak Boyke Hutapea, menegaskan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap makanan. Beliau menyoroti bahwa selama ini gizi sering kali hanya dimaknai sebagai rasa kenyang, sementara ketergantungan pada jajanan instan masih cukup tinggi.
“Kegiatan ini mengajak kita sekalian agar mengetahui secara sadar bahwa pangan lokal kita bernilai gizi tinggi untuk memperbaiki status gizi balita maupun wanita hamil,” ujar Boyke. Pesan utamanya sangat jelas: kemandirian pangan harus dimulai dari dapur rumah untuk menciptakan desa yang sehat dan berdaya.

Kekayaan Alam Sumba dalam "Isi Piringku"
Workshop hybrid ini menghadirkan ahli gizi secara daring, Ibu Tiara Baidhazain, yang memaparkan materi secara daring mengenai konsep gizi seimbang dan standar "Isi Piringku". Ia menekankan bahwa kebiasaan makan "asal kenyang" tanpa memperhatikan kualitas nutrisi berisiko bagi pertumbuhan anak, terutama dalam mencegah stunting melalui pemenuhan zat besi dan protein.
Menariknya, sesi ini juga menjadi ajang nostalgia sekaligus edukasi terhadap potensi kekayaan alam Sumba Barat Daya. Para peserta mengidentifikasi berbagai bahan pangan lokal yang sangat kaya nutrisi, seperti:
- Sumber Karbohidrat: Nasi jagung, ubi kukus (Lua Okkul), ubi busuk/fermentasi (Lua Bogho), keladi, sorgum, dan petatas.
- Sumber Vitamin & Mineral: Daun ubi tumbuk, sayur pakis, daun kelor, hingga buah-buahan seperti anonak dan sirsak.
Ibu Maria Stephanie, Konsultan Pangan Lokal dari Umaratu Foundation (mitra teknis YTBL untuk proyek Uma Bestari), yang hadir secara langsung, memimpin sesi praktik pemetaan pangan. Peserta diajak untuk mengategorikan bahan makanan yang dibawa dari rumah dan menyusunnya menjadi menu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang sesuai dengan kebutuhan bayi, balita, dan wanita hamil.

Suara dari Desa: Harapan Baru bagi Kader
Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan. Ibu Ester Wada, salah satu peserta dari TP-PKK Desa Lete Konda Selatan, mengaku bersyukur karena akhirnya menyadari kekayaan gizi yang ada pada pangan yang mereka bawa dari rumah.
Sementara itu, Ibu Anjelina Daido dari Desa Pogo Tena merasa lebih optimis setelah mendapatkan penjelasan dari para ahli. “Setelah memperoleh pengetahuan dari ahlinya, kami menyadari bahwa Sumba Barat Daya masih kaya akan sumber daya alam untuk mendukung pemenuhan gizi seimbang,” ungkap Anjelina.
Langkah Selanjutnya: Menuju Workshop Tingkat Desa
Kegiatan ini tidak berhenti di aula hotel. Sebagai rencana tindak lanjut, para peserta berkomitmen untuk memaparkan hasil workshop ini kepada kepala desa dan rekan kader lainnya. YTBL juga akan memberikan pendampingan intensif untuk menginisiasi penyuluhan gizi seimbang berbasis pangan lokal di setiap Posyandu secara rutin.
Melalui proyek Uma Bestari, YTBL berharap kolaborasi antara pengetahuan teknis gizi dan kearifan lokal dapat menjadi kunci utama dalam menekan angka stunting serta meningkatkan kemandirian pangan di Bumi Marapu
Proyek Uma Bestari didukung sepenuhnya melalui pendanaan dari Kindermissionswerk “Die Sternsinger” e.V. (KMW) Jerman. Dukungan ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat pendekatan berbasis komunitas dalam peningkatan gizi anak, ketahanan keluarga, dan pembangunan lokal yang berkelanjutan.
Melalui kemitraan ini, KMW memungkinkan YTBL bersama pemerintah desa dan masyarakat untuk mengimplementasikan program yang menekankan pencegahan, penguatan kapasitas, serta dampak jangka panjang, bukan sekadar intervensi sesaat.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa solidaritas internasional dan inisiatif lokal dapat berjalan beriringan dalam menghadirkan perubahan yang bermakna dan berkelanjutan bagi anak-anak dan keluarga di Sumba Barat Daya.