Sejarah Organisasi
Perjalanan Menuju Masa Depan yang Lestari
Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL) lahir dari rasa kepedulian dan harapan. Gagasan ini berawal dari dua individu—Boyke N.H. Hutapea dan Pupu Purwaningsih—yang memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pendidikan. Sebagai pegiat lingkungan dan pendidik yang telah lama berkarya bersama masyarakat, mereka menyaksikan langsung bagaimana berbagai tantangan lingkungan—peningkatan sampah plastik, krisis air bersih, degradasi lahan, perubahan iklim, hingga memudarnya kearifan lokal—semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari di Sumba.
Berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan dan kepemimpinan anak muda merupakan kunci untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan, kedua pendiri ini memulai langkah kecil melalui kegiatan sukarela: sesi edukasi lingkungan di sekolah, aksi bersih lingkungan, serta diskusi-diskusi komunitas mengenai cara menjaga alam dengan tindakan sederhana namun bermakna. Inisiatif kecil inilah yang kemudian berkembang menjadi visi bersama: membangun sebuah lembaga yang dapat bekerja secara lebih sistematis, berkelanjutan, dan kolaboratif di sekolah serta komunitas.
Visi tersebut terwujud pada 16 Juni 2025, ketika Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL) resmi didirikan di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, berdasarkan Akta Notaris I Gusti Ayu Ryan Sonnia Paramita, S.H., M.Kn. YTBL kemudian disahkan oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0010871.AH.01.04.Tahun 2025, yang diterbitkan pada 17 Juni 2025.
Sejak awal berdirinya, YTBL dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas generasi—menggabungkan semangat dan kreativitas anak muda, kearifan budaya lokal, serta pendekatan keberlanjutan yang praktis dan berbasis bukti. YTBL lahir dari keyakinan bahwa menjaga bumi bukan hanya sebuah kampanye, tetapi sebuah cara hidup; bukan hanya sebuah proyek, tetapi warisan bagi generasi yang akan datang.
Hari ini, YTBL terus tumbuh sebagai penggerak edukasi lingkungan, pemberdayaan anak muda, dan inisiatif keberlanjutan berbasis komunitas di Sumba—membawa satu misi sederhana namun mendalam: merawat bumi agar terus tumbuh, dan memastikan setiap generasi dapat tumbuh bersama bumi.
"Generasi muda bukan pewaris bumi—mereka adalah penjaga masa depannya."