Sampah Bukan Salah Siapa-Siapa, Cuma Kita yang Malas Berubah

25 September 2025 Artikel

Sampah Bukan Salah Siapa-Siapa, Cuma Kita yang Malas Berubah

Oleh: Boyke N.H. Hutapea

Kalau setiap kali buang plastik kita berharap bumi yang beresin, ya siap-siap aja: mungkin nanti cucu kita bakal berenang bukan di laut biru, tapi di lautan plastik. Ironis, tapi begitulah kenyataannya — kita hidup di zaman di mana bungkus makanan lebih panjang umur daripada manusia.

Itulah nada pembuka yang saya bawa ketika menjadi narasumber dalam kegiatan Diskusi & Aksi “Komunitas Pemuda dalam Upaya Pengelolaan Sampah untuk Meminimalisir Dampak terhadap Perubahan Iklim” yang diadakan oleh Yayasan Setara Jambi pada 25–26 September 2025. Selama dua hari, kami mencoba mengubah cara pandang tentang sampah — bukan sekadar bicara, tapi benar-benar menyentuh kenyataan.

Hari Pertama: Menemukan Jejak Plastik Kita Sendiri

Di aula Politeknik Jambi yang dipenuhi anak muda dari berbagai komunitas — kampus, organisasi sosial, hingga kelompok pemuda nonkampus — saya memulai sesi dengan satu tugas sederhana: menulis daftar belanja dalam 24 jam terakhir dan mencatat sampah apa saja yang dihasilkan dari belanja itu. Ada yang menulis bungkus mi instan, botol air mineral, kantong plastik, sedotan, hingga kemasan online shop.

Setelah itu, mereka menempelkannya di kertas plano besar bertuliskan “Jejak Plastik Harian”. Dalam sekejap, kertas itu penuh. Warna-warni kertas catatan menampilkan satu kenyataan pahit: setiap orang punya kontribusi nyata terhadap timbunan sampah plastik di bumi.

Dari situ, saya ajak mereka merenung lewat beberapa “kuis plastik” — ringan tapi menggelitik. Banyak yang terkejut mengetahui bahwa plastik butuh ratusan tahun untuk terurai, atau bahwa pembakaran plastik justru menciptakan gas beracun dan mempercepat perubahan iklim. Saya juga membagikan beberapa “hard fact”: dunia memproduksi lebih dari 400 juta ton plastik per tahun, tapi hanya 9% yang didaur ulang. Indonesia menyumbang sekitar 7,8 juta ton, dengan 620 ribu ton mengalir ke laut setiap tahunnya.

Di tengah sesi, saya membagi peserta dalam kelompok komunitas dan meminta mereka memikirkan ide kreatif untuk mengurangi sampah plastik. Hasilnya menarik: ada yang ingin mengadakan refill station di kampus, membuat lomba tanpa sampah plastik di acara komunitas, hingga mengolah limbah plastik jadi produk fesyen. Dari obrolan santai itu, muncul kesadaran bahwa solusi bisa lahir dari kreativitas, bukan dari rasa bersalah.

Menumbuhkan “Pohon Komitmen”

Setelah istirahat makan siang, saya mengajak peserta menulis hal kecil yang bisa mereka lakukan mulai besok untuk mengurangi sampah plastik. Ada yang berjanji membawa tumbler, ada yang ingin berhenti membeli minuman kemasan, ada pula yang berniat membuat kampanye di sekolahnya.

Semua kertas itu mereka tempel di papan besar berbentuk pohon bertuliskan “Pohon Komitmen Zero Waste Lifestyle”. Lembaran kertas berisi janji kecil itu menjelma seperti daun-daun harapan. Di balik setiap tulisan sederhana, ada semangat baru untuk berubah.

Hari Kedua: Menyaksikan Wajah Nyata Sampah

Keesokan harinya, kami menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Talang Gulo Jambi. Begitu turun dari bus, aroma menyengat langsung menyambut — nyata, jujur, tanpa filter. Di depan mata, sampah menggunung: sisa makanan, plastik, kain, dan botol bercampur jadi satu. Dari hasil pengelolaan TPA, diketahui bahwa 51% sampah yang masuk adalah organik, yang seharusnya bisa dipilah sejak dari dapur.

Namun di balik tumpukan itu, ada upaya yang patut diapresiasi. Pengelola TPA Talang Gulo mengolah sampah organik menjadi pupuk, sementara para pemulung memilah plastik untuk dijual kembali. Langkah kecil tapi berarti, yang membuktikan bahwa ekonomi sirkular bukan sekadar konsep — ia hidup di tangan mereka yang mau bekerja keras.

Bagi sebagian peserta, pengalaman itu menggugah. Banyak yang mengaku baru kali itu melihat betapa besar volume sampah yang dihasilkan kota mereka setiap hari. Ada yang diam lama, ada yang sibuk memotret, dan ada juga yang menuliskan kesan di ponselnya — mungkin untuk diunggah, mungkin juga untuk diingat.

Generasi Muda, Generasi Solusi

Sebagai pendiri dan direktur eksekutif Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL), saya selalu percaya bahwa perubahan lingkungan tidak bisa dimulai dari perintah — ia lahir dari kesadaran. YTBL berdiri di Sumba untuk mengedukasi, menginspirasi, dan memberdayakan masyarakat agar hidup selaras dengan alam. Kami mendorong ekonomi sirkular, inovasi hijau, dan gaya hidup berkelanjutan — terutama di kalangan muda.

Generasi muda punya kekuatan besar: mereka cepat belajar, cepat bergerak, dan punya imajinasi yang tak terbatas. Mereka bisa jadi motor perubahan menuju masyarakat zero waste — bukan karena disuruh, tapi karena mereka sadar bahwa masa depan mereka sendiri yang sedang dipertaruhkan.

Sampah bukan takdir, tapi akibat. Dan setiap akibat bisa diubah kalau sebabnya kita ubah bersama. Jadi sebelum bumi benar-benar lelah menanggung kebiasaan kita, mari mulai dari hal kecil: pilah sampah di rumah, bawa wadah sendiri, tolak plastik sekali pakai, dan ajak temanmu melakukan hal yang sama.

Karena menjaga bumi bukan kerja segelintir aktivis; ini tentang kita semua — manusia yang masih ingin menghirup udara segar, minum air bersih, makan ikan yang sehat, dan hidup di planet yang masih layak ditinggali.