Hutan Bukan Paru-Paru Dunia? Mari Pahami Perannya dengan Utuh
Oleh: Boyke N.H. Hutapea
Beberapa waktu terakhir, ruang publik ramai membahas pernyataan seorang anggota DPR-RI, Victor Bungtilu Laiskodat, yang menyebut bahwa hutan bukanlah paru-paru dunia dan laut justru menjadi penghasil oksigen terbesar di Bumi. Pernyataan ini menuai pro dan kontra, terutama di media sosial.
Di tengah perdebatan tersebut, ada satu hal penting yang tidak boleh kita lewatkan: memahami peran hutan secara utuh, bukan sepotong-sepotong. Terutama bagi generasi muda, pemahaman yang tepat adalah fondasi untuk menjaga masa depan bumi.
Secara ilmiah, benar bahwa fitoplankton di laut menghasilkan sebagian besar oksigen dunia melalui proses fotosintesis. Organisme mikroskopis ini hidup di permukaan laut dan jumlahnya sangat besar.
Namun, menyederhanakan fungsi ekosistem hanya dari siapa paling banyak menghasilkan oksigen adalah cara pandang yang berisiko. Ekosistem bumi tidak bekerja seperti lomba peringkat, melainkan seperti jaringan kehidupan yang saling menopang.
Hutan sering disebut “paru-paru dunia” bukan karena angka produksi oksigennya semata, melainkan karena fungsi ekologisnya yang sangat luas, antara lain:
-
Penyerap Karbon Alami
Pohon menyerap karbon dioksida dan menyimpannya dalam batang, akar, dan tanah. Proses ini membantu menahan laju perubahan iklim. -
Pengatur Iklim dan Cuaca
Hutan menjaga kelembapan udara, memengaruhi curah hujan, dan menstabilkan suhu. Hilangnya hutan sering berujung pada kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem. -
Penjaga Siklus Air
Akar pohon membantu air meresap ke tanah, mengisi cadangan air tanah, dan mencegah erosi serta longsor. -
Rumah Keanekaragaman Hayati
Lebih dari 80 persen spesies darat bergantung pada hutan sebagai habitat. Hilangnya hutan berarti hilangnya kehidupan.
Laut dan hutan bekerja bersama, bukan saling menggantikan. Hutan yang rusak akan meningkatkan limpasan sedimen dan polusi ke laut, merusak terumbu karang dan fitoplankton. Sebaliknya, laut yang rusak akan mempercepat krisis iklim yang juga mengancam hutan.
Jika satu runtuh, yang lain ikut terguncang.
Generasi muda tidak perlu memilih: hutan atau laut. Kita perlu menjaga keduanya.
Mulai dari hal sederhana:
-
Belajar memahami ekosistem secara menyeluruh
-
Mengurangi konsumsi yang merusak alam
-
Mendukung upaya perlindungan hutan dan laut
-
Menyebarkan informasi yang berimbang dan berbasis ilmu pengetahuan
Pernyataan publik, termasuk dari tokoh politik, seharusnya menjadi pintu edukasi, bukan sekadar polemik. Hutan mungkin bukan satu-satunya penghasil oksigen terbesar, tetapi tanpa hutan, keseimbangan kehidupan di Bumi akan goyah.
Menjaga hutan berarti menjaga masa depan.
Catatan Editorial:
Artikel ini disusun berdasarkan sumber resmi pemerintah Indonesia, lembaga riset nasional, serta organisasi lingkungan tepercaya untuk membantu masyarakat memahami peran hutan secara utuh dan berbasis konteks Indonesia.
Sumber Gambar: www.freepik.com
Referensi:
-
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
Status Hutan dan Kehutanan Indonesia
https://www.menlhk.go.id -
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Perubahan Iklim di Indonesia
https://www.bmkg.go.id/iklim/perubahan-iklim.bmkg -
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI, kini BRIN)
Peran Ekosistem Hutan dalam Penyerapan Karbon
https://www.brin.go.id -
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Hutan, Karbon, dan Ketahanan Iklim Indonesia
https://www.brin.go.id -
Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)
Hutan dan Krisis Iklim
https://www.walhi.or.id -
Auriga Nusantara
Deforestasi Indonesia dan Dampaknya
https://auriga.or.id -
WWF Indonesia
Mengapa Hutan Indonesia Penting?
???? https://www.wwf.id -
Mongabay Indonesia
Hutan, Karbon, dan Paru-Paru Dunia
https://www.mongabay.co.id -
Pojoksatu.id
Viral Viktor Laiskodat Sebut Hutan Bukan Paru-Paru Dunia
https://www.pojoksatu.id/nasional/1087009175/viral-viktor-laiskodat-sebut-hutan-bukan-paru-paru-dunia-netizen-langsung-ribut