Dari Pangan Lokal ke Peluang Usaha: Mama-Mama Sumba Belajar Mengolah, Menghitung, dan Berkarya
Bagaimana jika bahan pangan yang tumbuh di sekitar rumah bukan hanya menjadi makanan keluarga, tetapi juga bisa diolah menjadi makanan bergizi dan sumber penghasilan?
Pertanyaan itulah yang menjadi bagian penting dari Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal dan Kewirausahaan yang dilaksanakan Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL) melalui Proyek Uma Bestari pada 21–23 Juli 2026 di SMKS Bakti Luhur Tambolaka. Kegiatan ini melibatkan 20 perempuan dari kelompok PKK dan kader Posyandu.
Selama tiga hari, peserta tidak hanya belajar memasak. Mereka belajar memahami nilai gizi pangan lokal bersama ahli gizi dan fasilitator pangan lokal, kemudian langsung mempraktikkannya melalui berbagai resep. Fransiska Maria Stephanie dari Yayasan Umaratu mendampingi peserta dalam mengeksplorasi dan mengolah pangan lokal, sementara Tiara Baidhazain Salsabila, S.Tr.Gz dari Indonesian Sport Nutritionist Association (ISNA), memberikan penguatan tentang gizi dan makanan sehat. Pelatihan juga menghadirkan Dhana Dhiwantara, General Manager Sima Sumba Hotel, yang berbagi tentang food costing, modal, peluang, dan keuntungan dalam usaha makanan.
Belajar gizi dengan tangan yang ikut bekerja
Pelatihan tidak dirancang sebagai kelas yang hanya penuh slide dan catatan. Peserta langsung mempraktikkan berbagai teknik pengolahan pangan lokal melalui demonstrasi memasak, kerja kelompok, diskusi, dan refleksi.
Pada hari pertama, peserta mengeksplorasi cara mengolah kacang, daun ubi, ikan, dan jantung pisang dengan teknik yang membantu mempertahankan nilai gizinya. Mereka juga kembali menggunakan konsep “Isi Piringku” sebagai panduan menyusun makanan yang beragam dan seimbang.
Hal-hal yang terlihat sederhana ternyata menghasilkan pengetahuan baru. Peserta belajar, misalnya, mengenai pengolahan kacang, teknik memasak ikan, serta pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber karbohidrat, protein, vitamin, dan serat.
“Biasanya kami memasak kacang dengan cara direbus setengah matang, kemudian langsung dicampur dengan beras. Namun, hari ini saya mendapatkan pemahaman baru...” ujar Ibu Yuliana Ghona, peserta dari PKK Desa Pogo Tena.
Di sinilah dapur berubah menjadi ruang belajar. Bukan sekadar masak lalu makan, tetapi masak, memahami, mencoba, dan bertanya mengapa.
Dari jantung pisang sampai labu, semuanya bisa jadi produk
Hari kedua peserta mulai mengeksplorasi menu yang tidak hanya bergizi, tetapi juga punya potensi ekonomi. Mereka mempraktikkan ikan kukus, telur tahu kukus, dan sate ayam dengan jantung pisang. Kombinasi bahan lokal membuka kemungkinan baru untuk menghasilkan makanan yang lebih beragam sekaligus bernilai jual.
Hari ketiga semakin kreatif. Peserta mengolah kue kacang hijau, perkedel keladi, dan lemet labu kuning sebagai makanan selingan. Resep yang disiapkan juga mencakup sate lilit ayam dan jantung pisang, tim ikan, serta telur tahu kukus dengan sambal tomat kemangi. Bahkan bahan yang sering dianggap “biasa” mendapat panggung baru. Jantung pisang, keladi, labu kuning, kacang hijau, dan ikan lokal bisa masuk ke dalam menu yang menarik, bergizi, dan berpotensi dikembangkan.
Salah satu pesan penting dari pelatihan ini adalah bahwa nilai pangan tidak berhenti pada kandungan gizinya. Cara mengolah dan mengemasnya juga dapat menciptakan nilai tambah.
Bukan cuma enak, tapi harus tahu hitungannya
Menjadi pelaku usaha pangan tentu membutuhkan lebih dari sekadar resep yang enak.
Karena itu, peserta juga mendapatkan literasi keuangan usaha bersama Dhana Dhiwantara, General Manager Sima Sumba Hotel. Materinya mencakup perhitungan modal, food cost, harga pokok produksi, harga jual, pencatatan keuangan, hingga pemisahan keuangan usaha dan pribadi.
Pesan sederhananya: kalau uang masuk dan keluar tidak dicatat, keuntungan bisa ikut menghilang tanpa pamit.
Peserta mulai memahami bahwa usaha pangan perlu dikelola dengan perhitungan yang jelas agar dapat berkembang dan menghasilkan keuntungan secara lebih terukur.
Delapan poin kenaikan pengetahuan
Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Rata-rata nilai meningkat dari 82,5% menjadi 90,5%, atau naik 8 poin persentase. Sebanyak 90% indikator mengalami peningkatan, sementara 10% tetap dan tidak ada indikator yang menurun.
Namun, pelatihan ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran tidak selesai ketika tiga hari kegiatan berakhir. Beberapa aspek, terutama pemahaman tentang 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan kewirausahaan, masih perlu diperkuat melalui pendampingan dan praktik yang lebih kontekstual.
Karena itu, peserta berkomitmen membawa pengetahuan tersebut pulang: mempraktikkan resep di rumah, berbagi dengan keluarga dan Posyandu, mencoba variasi produk, serta mendokumentasikan hasilnya.
Dua desa, Lete Konda dan Pogo Tena, bahkan menyatakan komitmen untuk menduplikasi menu makanan selingan dan mempraktikkannya untuk dijual saat kegiatan atau event di desa. Sementara itu, produk yang telah dilatih juga akan menjadi referensi dalam pengolahan PMT yang bersumber dari anggaran desa di Lete Konda dan Lete Konda Selatan.
Dari dapur, tumbuh perubahan
Ada satu hal lain yang ikut dibawa pulang: kesadaran bahwa makanan lokal dan lingkungan tidak harus dipertentangkan dengan kebutuhan ekonomi.
Dalam pelatihan, peserta juga diperkenalkan pada penggunaan daun pisang dan daun jati sebagai alternatif kemasan, mengurangi ketergantungan pada plastik sekaligus memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar.
Bagi YTBL, inilah semangat Uma Bestari: memulai perubahan dari sesuatu yang dekat. Dari bahan yang tumbuh di sekitar rumah. Dari tangan para perempuan di desa. Dari dapur keluarga.
Karena ketika pangan lokal diolah dengan pengetahuan, kreativitas, dan perhitungan yang tepat, ia tidak hanya mengisi piring.
Ia bisa menguatkan keluarga, menghidupkan ekonomi, dan membuka jalan menuju desa yang lebih sehat dan berdaya.