Cara Kehilangan Sebuah Pulau Saat Membangunnya

09 September 2025 Artikel

Cara Kehilangan Sebuah Pulau Saat Membangunnya

Oleh: Boyke N.H. Hutapea
 

Kita semua suka pembangunan — siapa yang tidak? Jalan baru, jembatan megah, rumah kokoh. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan hilang: pasir yang menopang setiap bangunan kini diambil tanpa kendali. Kita membangun impian, tapi tanpa sadar sedang menggali kubur bagi pulau kita sendiri.

Beberapa waktu lalu, saya diundang sebagai narasumber dalam Diskusi Publik bertema “Krisis Pasir Ancam Masa Depan Generasi di Pulau Sumba”, yang diselenggarakan oleh Partai Demokrat Kabupaten Sumba Barat Daya pada 9 September 2025 di Tambolaka, bertepatan dengan HUT ke-24 Partai Demokrat NTT.

Dalam forum itu, kami sepakat: krisis pasir bukan sekadar isu lingkungan. Ini tentang masa depan Sumba Barat Daya — tentang kehidupan, air, dan keseimbangan yang terus terkikis oleh ambisi pembangunan.

Banyak orang menganggap pasir hanyalah bahan bangunan. Padahal, pasir adalah pelindung alami — menahan abrasi, menyaring air tanah, dan menjadi rumah bagi kehidupan laut. Ketika pasir diambil tanpa batas, fungsi-fungsi penting itu lenyap: air menjadi asin, garis pantai mundur, dan warga kehilangan sumber air bersih.

Saya sempat berkata di forum itu:

“Apalah artinya rumah yang kita bangun indah dengan pasir laut, kalau rumah besar kita — Pulau Sumba — justru hancur?”

Sumba Barat Daya sebenarnya memiliki aturan daerah tentang penambangan pasir. Namun di lapangan, penegakannya lemah. Tambang ilegal marak, dan ironisnya, sebagian hasil tambang justru digunakan untuk proyek resmi.

Kita seperti sedang membangun daerah sambil menghancurkan fondasinya sendiri — pelan, tapi pasti.

Kerusakan lingkungan kini terlihat nyata: air bersih makin sulit, pantai tergerus, sawah gagal panen karena air asin, dan nelayan kehilangan area tangkap. Pariwisata yang dulu menjadi harapan kini perlahan pudar bersama pasir yang hilang.

Ini bukan sekadar isu alam — ini soal martabat manusia dan masa depan ekonomi lokal.

Saya memahami, bagi sebagian warga, menambang pasir adalah mata pencaharian. Tapi antara butuh dan serakah, ada garis tipis yang kini makin kabur.

Kita perlu keseimbangan baru — zona tambang yang berizin, penggunaan material alternatif, dan edukasi publik yang kuat agar masyarakat sadar: pasir bukan sekadar bahan bangunan, tapi pelindung kehidupan.

Di tengah kekhawatiran ini, saya tetap percaya pada generasi muda Sumba. Mereka yang kini aktif di komunitas, sekolah, dan media sosial memiliki semangat luar biasa untuk menjaga alamnya.

Melalui aksi bersih pantai, kampanye digital, dan gerakan reboisasi, mereka membuktikan bahwa harapan masih hidup.

“Melindungi pasir berarti melestarikan kehidupan.”

Kita semua ingin Sumba Barat Daya maju dan sejahtera. Tapi apakah kemajuan itu layak dibayar dengan hilangnya pantai, air bersih, dan masa depan anak-anak kita? Jika kita terus menggali tanpa kendali, mungkin pembangunan tetap berdiri megah — tapi di atas tanah yang perlahan ditelan laut.

Dan saat itu terjadi, yang hilang bukan hanya pasir, tapi masa depan kita sendiri.

"Karena pada akhirnya, menjaga pasir di bawah kaki kita berarti menjaga kehidupan di atasnya."